Kuruna Sugiyo

Jika kau tidak bisa menjadi matahari, cukuplah menjadi lilin yang mampu menerangi jalan setapak menuju sumber mata air....

Selengkapnya
CUITAN SANG KARTINI KECIL
Kegiatan saat menulis surat untuk orang tua

CUITAN SANG KARTINI KECIL

Hari itu aku masuk ke kelas 6, meskipun sebenarnya tidak ada jadwal mengajar. Dalam benakku saat itu, sebagai seorang ibu, sempat berpikir betapa indahnya ketika jelang ujian anak-anak lebih dekat kepada orang tuanya. mohon doa restunya dan menyampaikan keinginannya yang selama ini tidak tercurahkan, kemudian saling memaafkan satu sama lain.
Sebagai sekolah Model GSM, saya mencoba untuk merefleksikan peringatan Hari Kartini tahun ini lebih bermakna. Tapi bagaimana caranya untuk mewujudkan semua itu? Begitu dalam hatiku. Entah apa yang terlintas dalam pikiranku saat itu,tiba-tiba aku meminta mereka untuk menulis surat yang ditujukan kepada orang tua masing-masing.
Aku meminta mereka menuliskan apa yang selama ini terpendam dan tidak berani menyampaikan, lewat sepucuk surat. Mulailah mereka menulis, aku mengelilingi mereka, sambil sesekali kusentuh hati mereka, dengan mengingatkan kembali akan pengorbanan dan jasa orang tua kita dalam membesarkan,mengasuh dan merawat kita mulai dari dalam kandungan sampai sebesar ini. Menjaganya siang dan malam tanpa kenal lelah dan mengeluh. Seluruh hidupnya dipertaruhkan hanya untuk kebahagiaan dan kesuksesan buah hatinya, curahan kasih sayang yang berlimpah, serta doa tulus di setiap detak jantungnya, berharap mampu mengantar mereka dalam kehidupan masa depan yang lebih baik dari dirinya sendiri.
Waktu berjalan, siswa kelas 6 masih asyik menulis. Aku pandangi wajah mereka satu persatu, ada ekspresi kesedihan tergambar di wajah mereka. Mereka berusaha untuk menutupinya dengan menundukkan kepalanya, sesekali menyeka airmata yang jatuh di pipi mereka. Tergambar rasa penyesalan di hatinya, teringat ketika mereka mungkin saja mengecewakan, nakal dan membuat orang tua mereka kesal.
Tiba-tiba mataku tertuju kepada seorang anak perempuan yang menangis tersedu. Aku pun penasaran dan aku bertanya kepadanya apa yang membuatnya sampai terisak seperti itu. Dia tak sanggup menjawab, dan hanya menyodorkan secarik kertas surat yang basah karena airmatanya, dan aku pun membacanya.
DEG!
Ada rasa sesak di dadaku bagaikan dihantam bogem keras saat membacanya. Ada rasa bersalah menyesal dalam hatiku kenapa aku harus minta mereka menulis surat, maafkan ibu, anakku! Tidak ada niat sedikit pun untuk melukai perasaanmu dan membuatmu sedih.
Dalam isi surat itu dikisahkan bahwa kehidupan orang tuanya yang berpisah dan sekarang dia tinggal dengan kakeknya. Yang membuatku terharu saat kubaca kalimat yang mengatakan:
“Ma, bolehkah aku minta hadiah jika nilai ujianku nanti bagus?Aku ingin kalau nilaiku bagus, ku mohon Mama dan Papa bersama dan bersatu seperti dulu lagi, aku ingin seperti teman-temanku yang selalu diantar jemput oleh orangtuanya, bisa salaman, bahkan cium tangan saat berangkat sekolah. Bukankah yang sudah dipersatukan oleh Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia?”
Aku terdiam, sesak rasanya dada ini,tersekat sejenak, mataku basah, dan hatiku terasa teriris, kemudian aku peluk anak tersebut, dan langsung minta maaf karena telah memintanya menulis surat dan membuatya sedih. Dalam hati kukatakan, “Percayalah kami semua menyayangimu, kami juga keluargamu, dan akan ada selalu ada untukmu, dan tak kan kubiarkan kau sendiri menjalani hari-harimu.”
Pelukku makin erat. Akhirnya anak-anak perempuan lainnya pun ikut menghampirinya dan menenangkan dirinya. Suasana haru biru berkecamuk, menyelimuti perasaan kami saat itu. Namun ada rasa lega pada diri anak-anak kelas 6 yang telah jujur mengungkapkan apa yang selama ini tersimpan dalam hatinya.
Kami sepakat untuk memberikan surat itu kepada orang tua mereka dan meminta balasannya sebagai refleksi kepada anak-anak. Secuil surat mampu mempersatukan sebuah keluarga dan membuat seorang anak menemukan kebahagiaannya kembali dalam keutuhan sebuah keluarga, Semoga semua anak mendapatkan apa yang menjadi haknya, hidup dengan limpahan kasih sayang kedua orang tuanya. Dan berharap semua sekolah bisa menjadi rumah kedua bagi mereka.


DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali